JOSH
Karya : Fitri Anifatul Wachidah
“Bangun fatimah, ini udah pukul 05.00 !”
Suara mama terdengar membangunkan
tidurku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan bergegas segera mandi dan
sholat shubuh. Aku adalah seorang gadis remaja yang tepatnya berumur tujuh
belas tahun, tapi entah kenapa aku masih saja bangun tidur harus dibangunkan.
Pagi ini langit sangat cerah,
mentari mulai memancarkan sinarnya hingga sampai kewajahku. Aku berangkat
sekolah dengan sahabatku, namanya Zahra. Ia sahabatku sejak Sekolah Dasar.
Zahra memiliki paras yang cantik, ramah, ceria dan juga pandai. Ia sering
sekali curhat kepadaku dan aku pun sebaliknya.
Seperti biasa sesampainya aku di
sekolah, aku dan Zahra selalu menyempatkan waktu untuk sholat dhuha, karena itu
merupakan kebiasaan kami sejak sekolah dasar. Kebetulan kami dulu di Sekolah
Dasar Muhammadiyah, jadinya lebih diperdalam Islam nya, hehehe. Oh ya, di
sekolahan tepatnya di SMK ku aku mengikuti organisasi Rohis, karena aku memang
tertarik dengan organisasi keagamaan, ingin cari pengalaman, dan juga aku belum
tahu apa itu Rohis, jadi aku penasaran dengan organisasi itu dan akhirnya aku
pun ikut mendaftar mengikuti organisasi tersebut.
Waktu pertama kali pengenalan Rohis
ataupun sering disebut taaruf, ada
sesuatu yang membuatku terkejut.
“Di Rohis peraturannya nggak boleh
berpacaran, bukan Rohis yang tidah memperbolehkan kita untuk berpacaran tetapi
Islam mengajarkan kita untuk tidak berpacaran, karena hanya akan mendekatkaan
kita pada zina dan sungguh mendekati zina itu adalah dosa yang besar apalagi
melakukannnya. Untuk itu sebelum kalian masuk dalam organisasi ini saya kasih
kalian dua pilihan, jika yang disini sudah memiliki pacar silahkan untuk
diakhiri dan tetap istiqomah dalam jalan-Nya. Jika kalian tidak sanggup
silahkan mengundurkan diri dari organisasi ini.” Kata kak Rasyd, seorang senior kelas 12 yang juga menjadi ketua Rohis
di SMK ini.
Aku
terkejut pada saat itu, sementara aku sendiri ingin sekali punya pacar yang
bisa perhatiin dan memberi semangat kepadaku, eh ini malah dilarang. Aku
binggung sekali dan berfikir untuk mengundurkan diri saja dari organiasi ini,
tapi kenapa hatiku mengatakan bahwa:
“Jangan
keluar dari organisasi ini, teruslah berhijrah dan berjuang di jalan Allah”.
Aku pun akhirnya mengikuti suara hatiku
danmengurungkan niatku untuk mengundurkn diri dari organisasi ini.
Sementara itu, Zahra ikut organisasi
lain, ia tidak berminat untuk mengikuti organisasi Rohis, karena memang ia
sendiri punya pacar dan belum sanggup jika untuk mengakhiri hubungannya
terlebih lagi ia juga kurang berminat dengan organisasi keagamaan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30
tanda berakhirnya jam pelajaran pada siang hari ini. Aku segera keluar kelas
bersama Zahra dan teman-temanku pun juga ikut keluar bersama kami.
“ Fatimah kamu yakin ikut Rohis? Itu
kan nggak enak banget masa nggak boleh pacaran sih.” Kata Zahra saat kami
melewati lorong-lorong sekolah menuju parkiran motor untuk segera pulang ke
rumah.
“ Hust... apaan sih kamu Ra, bukan
Rohis yang melarang kita buat berpacaran tapi Islam yang melarang kita untuk
berpacaran, karena pacaran itu mendekati zina dan berdosa besar.” Kata ku
mencoba menjelaskan kepada Zahra yang sudah salah paham.
“ Ya... terserah kamu aja lah,
semoga kamu betah di Rohis.” Kata Zahra dengan nada meledek dan sedikit ketawa
lalu segera mengendarai motornya.
“ Iihh Zahra..., ya udah yuk kita
pulang”
“ Ok deh, ayo”.
Hari-hari berlalu seperti biasanya,
tapi kali ini ada yang berbeda karena aku sering rapat Rohis dan kumpul dengan
teman-teman Rohis di SMK ku. Tiga bulan berlalu aku mengikuti organisasi ini,
aku semakin nyaman dengan organisasi tersebut, aku semakin merasa punya
keluarga baru di sini. Sampai pada akhirnya hatiku tersadar untuk berprinsip untuk
jomblo sampai halal (JOSH).
****
Disekolahan aku dan Zahra sering
sekali menyempatkan waktu istirahat di sekolah untuk ke perpustakaan, untuk
sekadar membaca buku cerita, novel, sejarah, dan buku yang lainnya. Aku dan
Zahra memang memiliki hobi yang sama yaitu membaca, selain itu tujuan kami ke
perpustakaan agar kami bisa menghemat uang jajan, hehehe.
Pagi itu sekitar pukul 09.00 pada
waktu istirahat pertama, aku pergi ke perpustakaan. Tapi kali ini Zahra tidak
ikut dengan ku, karena dia sibuk menyelesaikan tugas kelompok bersama kelompokknya.
Aku menyusuri lorong rak buku untuk memilih buku yang ingin aku baca dan
nantinya akan ku pinjam. Aku mengambil beberapa buku dn kubawa dengan cara
menumpukknya menuju tempat duduk. Tapi tiba-tiba saat aku akan menuju tempat
duduk tak kusadari seorang lelaki tak sengaja menabrakku dari arah yang
berlawanan dan menjatuhkan bukuku.
“ Eh, maaf... maaf...” Kata lelaki itu
sambil membantuku membereskan buku yang terjatuh.
“ Iya... iya... nggakpapa.” Kata ku
sambil menerima buku yang dibereskannya tadi.
“ Sekali lagi aku minta maaf ya?”
“ Iya, makasih juga udah bantu
beresin buku ku.” Jawabku yang lalu bergegas meninggalkan tempat itu dan segera
menuju tempat daftar peminjaman buku untuk meminjam buku tadi.
Aku
pun kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaraan ada hari ini.
“Thet..thet...thet...” Bel berbunyi
tanda berakhirnya pelajaran pada sore hari ini. Aku segera pulang ke rumah
bersama Zahra dan teman-teman yang lain.
****
Malamnya aku belajar dan membaca
buku yang telah kupinjam di perpustakaan tadi siang. Tiba-tiba aku teringat
oleh sosok lelaki yang tak sengaja menabrakku tadi siang di perpustaaan.
“ Siapa nama lelaki itu ya? Aku
jarang sekali melihatnya.” Pikirku dalam hati
“ Astaqfirullohhal’adzim, istiqfar
Fatimah, kenapa aku malah memikirkannya.” Ucapku bergeming dan segera kembali
membaca buku yang telah kupinjam. Setelah itu aku pun tidur.
Paginya, kembali aku berangkat
sekolah dengan zahra. Zahra selalu setia menungguku untuk berangkat sekolah
bersama. Dia memang sahabatku yang tulus,wkwkwk :D.
Sesampainya
kami di sekolah kami selalu melakukan rutinitas seperti biasanya, kami
mengikuti jam pelajaran dengan penuh serius tetapi tidak tegang-tegang amat
sih.., masih ada bercandanya. Tak lama kemudian bel tanda selesai nya pelajaran
pada hari sabtu ini selesai. Murid-murid segera keluar dari ruangan dan tak
lupa sebelum keluar, kami menyalami guru pembimbing kami terlebih dahulu.
“ Yuk Ra kita ke taman dulu, udah
lama lho kita nggak ke taman.” Ajakku kepada Zahra.
“ Ya udah yuk kita ke taman, tapi
beli makanan dulu ya? Aku lapar nih dari tadi belum sempat beli makanan ke
kantin.” Kata Zahra sambil memegang perutnya dan tersenyum kepadaku.
“ Ok deh...”
Sesampaiya kita di taman, dari
kejauhan aku melihat sosok lelaki yang tak sengaja menabrakku kemarin siang.
“ Jarang sekali ada lelaki yang ke
taman sambil membaca buku.” Pikir ku dalam hati tanpa diperhatikan oleh Zahra
tatapan wajahku kepada lelaki itu.
Aku duduk agak jauh dari lelaki itu
dan segera ku keluarkan buku yag hendak ku baca-baca di taman itu. Sedangkan
Zahra malah asyik dengan makanan yang sudah dibelinya tadi.
“ Fatimah aku ke toilet dulu ya?”
“ Ya, jangan lama-lama ya?” Ucapku
kepada zahra.
“ Ok.” Kata Zahra yang segera menuju
ke toilet.
Dan
tiba-tiba...
“
Assalamua’alaikum..., hay kamu yang kemarin siang di perpustakaan kan?” Ucap
lelaki itu menghampiri aku. Mungkin dia bermaksud akan pulang ke rumah tetapi
dia melihatku sendirian.
“
Wa’alaikumsalam... iya aku yang kemarin di perpustakaan.” Aku pun terkejut.
“
Oh iya, kita belum kenalan lho, perkenalkan namaku Muhammad Raihan, biasa
dipanggil Raihan, nama kamu siapa?” Dia menyodorkan tangannya kepada ku.
“
Nama ku Fatimah.” Aku pun menyodorkan tanganku tanpa menyalami Raihan karena
kita bukan muhrim dan Raihan pun memahaminya.
“
Oh fatimah. Kok sendirian aja?”
“
Enggak tadi aku sama temenku, dia sekarang baru di toilet.” Aku mencoba
menjelaskan.
“
Hay, ada kak Raihan disini.” Ucap Zahra yang tiba-tiba keluar dari toilet dan
menghampiri kami.
“
Zahra kamu kenal dengan kak Raihan?” Tanyaku kepada Zahra.
“
Ya kenal lah Fatimah, kak Raihan kan dulu kakak kelas SMP ku”
“
Iya aku dulu kakak kelas SMP nya Zahra sekarang pun aku kakak kelasnya,hehehe.
Zahra kamu masih inget aja padahal udah lama lho, udah gitu kita jarang
bertemu”
“
Ya masih inget donk kak, ingetan ku kan taajam :D” Kata zahra sambil tertawa,
kami pun ikut tertawa.
“
Bisa aja kamu ini Ra.” Jawabku kepada Zahra.
Suasana
di taman pada sore itu jadi semakin asyik dan seru dan rasa penat kami belajar
dari tadi pagi pun sirna. Setelah itu kami pulang dan tak lupa sebelum itu kami
sholat ‘Ashar dulu di masjid sekolah.
****
Enam
bulan telah berlalu, hari-hariku kuisi dengan kegiatan-kegiatan sekolah,
termasuk kegiatan organisasi Rohis. Sering sekali aku bertemu dengan kak Raihan
bersama Zahra sekedar untuk bercerita tentang Rohis ataupun hadroh. Kak raihan
memang ikut hadroh, aku baru mengetahuinya dan aku sudah mengenal jauh kak
Raihan.
Setiap
bulannya diadakan rapat Rohis, terlebih lagi bila ada acara keagamaan di
sekolah, pasti Rohis lah yang mengurusnya, untuk itu kami anggota Rohis sering
bertemu, sering ngobrol, sharing, dan disitulah aku selalu teringat apa yang
dikatakan kak Rasyd dulu pada awal pengenalan Rohis. Ya dulu aku berprinsip
untuk jomblo sampai halal. Tapi namanya juga wanita, terlebih lagi aku anak
remaja. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ini, entah rasa apa. Rasa yang
membuatku nyaman dan takut kehilangan. Ya mungkin hatiku mulai berlabuh mencintai kak Raihan, walaupun aku tetap
memegang prinsip untuk tidak berpacaran. Dan
aku hanya diam dan memendam rasa ini, bahkan Zahra pun mungkin tidak
mengetahuinya.
Hari
ini hari rabu, sepulang sekolah diadakan rapat Rohis.Dan tidak seperti
biasanya, kak Raihan menungguku dari rapat Rohis. Aku tidak tahu maksud kak
Raihan menungguku.
“
Kak Raihan disini?”
“
Iya Fatimah, boleh kita ngobrol dulu sebentar, ada yang mau aku bicarakan.”
“
Boleh kak, ada apa kak?”
“
Ngobrol nya di taman aja yuk, nggak lama kok. Lagian di taman juga banyak
orang, jadi kita nggak berduaan”
“
Ya udah yuk kak”
Di
perjalanan menuju ke taman aku berpikir apa yang akan dikatakan oleh kak
raihan. Tapi aku tidak memperdulikannya, rasanya aku senang sekali diajak
ngobrol sama kak Raihan. Dan kami pun sampai di taman.
“
Maaf Fatimah sebelumnya, apa kamu udah punya pacar?”
Aku
terkejut sekali saat kak raihan mengatakan itu kepadaku, aku tidak mengira
bahwa kak Raihan akan mengatakan itu kpadaku.
“
Belum kak, memangnya kenapa?”
“
Maaf ya Fatimah. Saya harus bilang ini ke kamu. Sebenarnya saya suka sama kamu.
Dan ini pertama kalinya saya mencintai wanita sedalam ini. Sudah berkali-kali
saya mecoba membuang perasaan ini, tapi semakin saya ingin membuang perasan
ini, saya semakin memikirkan kamu.”
“ Aku tidak salah dengar kan kak?”
“ Enggak Fatimah, aku serius.”
“ Tapi maaf kak sebelumnya, aku
tidak mau pacaran dulu, mungkin belum atau tidak. Entahlah. Tapi untuk sekarang
aku mau fokus belajar dulu, agar bisa bahagiain orang tua. Umurku juga baru 17
tahun, kita masih terlalu dini untuk berpacaran, lagi pula Islam tidak
mengajarkan kita untuk berpacaran, karena itu akan mendekatkan diri kita kepada
zina, dan sungguh zina itu adalah dosa yang sangat besar dan sungguh jodoh
pasti tidak akan kemana-mana.”
“ Tapi saya hanya ingin kamu tahu
Fatimah. Agar saya tidak terbebani dengan perasaan ini. Saya juga tidak
memaksamu untuk menjadi pacar saya, tapi seperti yang kamu tahu, pacaran tidak
diperkenankan di agama kita. Tapi jika kamu mau, saya akan datang ke rumahmu
untuk bilang kepada orang tuamu dan saya akan melamarmu menjadi istri saya, dan
saya akan menjadikanmu satu-satunya wanita yanga akan membawa saya ke surga.
“ kakak serius akan menungguku dan
akan melamarku kelak?”
“ Iya Fatimah aku serius, malahan
duarius :D” kata kak Raihan sambil tersenyum penuh keyakinan.
“ Baiklah kak, aku mau. Aku akan
menunggu kakak. Semoga Allah memberikan jalan dan memudahkan segalanya”
“ Aamiin...”
****
Tujuh tahun kemudian, setelah aku selesai kuliah
dan aku pun telah bekerja menjadi seorang guru di salah satu Sekolah Dasar di
Bantul, aku dan kak Raihan kembali dipertemukan oleh Allah, tapi kali ini kami
tidak dipertemukan untuk sekedar sharing ataupun mengobrol. Tetapi kak Raihan
benar-benar menepati janjinya, kak Raihan datang ke rumahku menemui kedua orang
tuaku untuk melamarku, dan untuk meminta restu kepada kedua orang tuaku. Dan
kini kak Raihan sudah bekerja menjadi seorang pengusaha busana muslim dan
seorang motivator. Ada rasa yang sangat bahagia, rasa rindu, dan terharu. Aku
pun bersyukur kepada Allah, karena akhirnya kami pun dipertemukan dalam ikatan
yang halal lagi diridhoi.
_Selesai_
Maaf apabila terdapat kesalahan penulisan dan kurang berkenan di hati anda. Mohon kritik dan saran guna terwujudnya artikel yang lebih baik lagi. Terimakasih
Komentar
Posting Komentar